Gerakan Moral dan Perjalanan yang Belum Selesai: Posisi Taufiq Ismail dalam Sastra Indonesia
1.
Tulisan ini paling tidak sebagai catatan atas posisi dan peran Taufiq Ismail dalam perjalanan sastra Indonesia. Perjalanan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dihadirkan lewat puisi-puisi kritiknya sebagai respon atas kondisi dan persoalan kehidupan dalam konteks Indonesia yang diwarnai intrik politik (idiologi) kekuasaan. Taufiq Ismail adalah sastrawan yang lewat kesaksian puisi-puisinya ingin menunjukan kejadian atau peristiwa yang berhasil ia maknai, selama hayatnya. Berarti pula Taufiq Ismail ingin mengangkat martabat bangsa ini di mana nilai-nilai yang bertumpu pada semangat moralitas dan religi ketuhanan mesti dijayakan.
Awal mula Taufiq Ismail berkiprah dalam melestarikan dan mentradisikan kesusastraan Indonesia tak bisa dilepaskan dari pergolakan suhu politik-kekuasaan tahun 60-an. Taufiq Ismail sebagai mahasiswa waktu itu terlibat langsung dalam kemelut situasi sosial yang gawat, kondisi politik dan budaya yang kisruh menyeret dirinya unjuk kesaksian lewat puisi-puisinya. Maka kesastrawanan Taufiq Ismail tak bisa diceraikan dari konstelasi pergolakan politik-kebudayaan-kekuasaan tahun 60-an itu, di mana tarik menarik idiologi pun terjadi. Almarhum H.B. Jassin, pecinta sastra yang tiada bandingannya di tanah air ini pun memasukan Taufiq Ismail sebagai sastrawan angkatan 66 di mana tahun itu merupakan masa peralihan berakhirnya era Orde Lama dan mulai memasuki era Orde Baru di bawah kepemimpinan “Bapak Pembangunan” Soeharto.
Momentuasi puisi-puisi Taufiq Ismail merujuk pada situasi pergolakan politik-kekuasaan kala itu. Berikut cuplikan puisi Taufiq Ismail yang merekam situasi pergolakan politik-kekuasaan di mana mahasiswa turun ke jalanan menuntut kemunduran Soekarno sebagai penguasa rezim Orde Lama yang berdampak di antaranya terbunuhnya seorang Arif Rachman Hakim sebagai tumbal sejarah, pejuang tatanan demokrasi tahun 60-an.
Karangan Bunga1
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu
”Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi.”
1966
Dicatat dalam Ensiklopedi Sastra Indonesia bahwa puisi-puisi protes Taufiq Ismail2 ikut ambil peran dalam demonstrasi mahasiswa tahun 1960-an yang menumbangkan rezim Orde Lama. Gejolak protes itu misalnya terasa pada bait puisi berikut:
…..
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah berbagi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun
…..
Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
….
1966
(”Sebuah Jaket Berlumur Darah3”)
Keterlibatan dan kesaksian Taufiq Ismail baik langsung maupun secara tidak langsung sebagai seorang sastrawan yang membaca bagaimana fluktuasi politik terjadi, tarik ulur perebutan (idiologi) kekuasaan dan kondisi sosial yang memilukan nyata tervisualisasikan lewat puisi-puisi yang terkumpul dalam “Tirani dan Benteng4” dan terkonseptualisasikan secara imaji lewat puisi-puisi yang terkumpul dalam Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia5. Taufiq Ismail sadar kala itu sebagai sosok dari kelompok sosial yang lebih terdidik, lebih peka mendorong perubahan. Dalam situasi tidak berfungsinya infrastruktur dan suprastruktur politik, Taufiq Ismail sebagai mahasiswa menjadi agent of social change, dan netral. Taufiq Ismail sebagai sastrawan mempunyai kepekaan terhadap masalah-masalah sosial yang selalu melandaskan kerja estetiknya pada pemuliaan harkat dan martabat moral kemanusiaan dalam konteks kebangsaan.
Merujuk pada pendapat Kuntowijoyo di pengantar antologi buku puisi ”Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” bahwa Taufiq Ismail adalah penyair hati nurani6. Tentu memang benar apabila kita bersungguh-sungguh membaca karya puisi-puisinya yang merepresentasikan religiusitas dan moralitas sebagai basis fitrah atau dorongan ruhaniah perjuangan estetiknya. Puisi-puisi Taufiq Ismail dalam konteks sosial bagaimana pun merupakan gemerlap perasaan kemanusiaan yang penuh dedikasi terhadap pentingnya jagat ini dibentengi oleh kekuatan nilai-nilai moralitas dan religi sebagai sandaran kepengarangannya. Tidaklah bisa dipungkiri misalnya ketika membaca puisi berjudul” 12 Mei 19987 ”berikut ini.
mengenang Elang Mulya, Hery Hertanto,
Hendriawan Lesmana dan Hafidhin Royan
Empat syuhada berangkat pada suatu malam, gerimis air mata
tertahan di hari keesokan, telinga kami lekapkan ke tanah kuburan
dan simaklah itu sedu-sedan,
Mereka anak muda pengembara tiada sendiri, mengukir reformasi
karena jemu deformasi, dengarkan saban hari langkah sahabat-
sahabatmu beribu menderu-deru,
Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu.
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu,
Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian tertinggi di
Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena kalian berani
mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan
darah arteri sendiri,
Merah putih yang setengah tiang ini, merunduk di bawah garang
matahari, tak mampu mengibarkan diri karena angin lama
bersembunyi,
Tapi peluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama, dan
kalian pahlawan bersih dari dendam, karena jalan masih
jauh dan kita perlukan peta dari tuhan
1998
Puisi di atas menunjukan ketika reformasi tiba tahun 1998 tepatnya ternyata membawa korban lagi seperti di tahun 60-an. Taufiq Ismail dengan murung dan rasa berduka tak sungkan-sungkan menyebut mereka yang jadi korban semacam tumbal itu sebagai ”syuhada”. Diksi ”syuhada” tentu saja merujuk pada pahlawan suci yang mati demi perjuangan memuliakan keislaman dan kemanusiaan. Dengan kekuatan imaji religi puisi tersebut beroleh tempat dalam sejarah perjalanan Indonesia di mana politik-kekuasaan sepertinya masih disesaki oleh kepentingan dan kekisruhan.
Sebagaimana dikatakan Sutedjo bahwa kekuatan imaji Taufiq Ismail dalam memotret realita ironis Orde Baru, dianyam dengan menggunakan ungkapan bergaya bahasa, permainan bunyi (asonansi dan aliterasi) yang menuansakan suasana tertentu kemudian di antara larik-lariknya masih dihiasi dengan pengungkapan simbol-simbol yang bersifat metaforis. Rekaman imaji konseptual penyair yang hiperbolistik-informatif dalam memotret keindonesiaan yang muram hakikatnya berangkat dari konsep religius akan pentingnya rasa malu: Malu Aku Jadi Orang Indonesia. Puisi Taufiq Ismail karena itu menangisi, mencatatnya, dengan huruf-huruf sedih, sesak nafas, geram dan naik darah8. Misalnya pada puisi berikut:
MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA9
1
Ketika di Pekalongan SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini
II
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi karet di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia
-
-
III
-
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor
satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang
curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara
hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk
kantung jas safari
Di kedutaan besar anak presiden, anak mentri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati, agar
orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku perhitungan suara pemilihan umum sangat-
sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar-
besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opninya bersilang tak habis dan tak
putus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat
belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, sekarang
saja sementara mereka kalah, kelak perencanaan dan
pembunuhan itu di dasar neraka oleh satpam akhirat akan
diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak
rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya
dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek
Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, lima
belas ini itu tekanan dan sepuluh macam ancaman
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebat disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror
penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil
bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor
pertandingan yang disetujui bersama,
Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat piala
dunia demi keamanan antarbangsa, lagi pula piala
dunia itu cuam urusan negara-negara kecil karena Cina,
India, Rusia dan kita tak turut serta, sehinggga cukuplah
Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat
terang-terangan di Aceh, Tanjung Priok, Lampung, Haur
Koneng, Nipah, Santa Cruz, Irian dan Bunyuwangi, ada pula
pembantahan terang-terangan yang merupakan dusta
terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kisah masih ada , tapi dalam
kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di
tumpukan jerami selepas menuai padi.
IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia
1998
atau,
Bersyukurlah, San, Bersyukurlah10
Bersyukurlah San, kau tak ikut-ikutan
Mempersembahkan gelar Pemimpin Besar Revolusi
Bersyukurlah
Bersyukurlah San, kau tak turut-turutan
Menjunjungkan gelar Bapak Pembangunan
Bersyukurlah
Bersyukurlah San, kau tak terpikat kedudukan
Jadi anggota MPR mewakili seniman
Bersyukurlah
Bersyukurlah San, kau menolak buku larangan
dan cekal pementasan
Pegal lehermu melobi terus-terusan
Bersyukurlah
Sehingga bila keturunanmu kelak bertanya
Waktu lama dulu kakek tegak di mana
Engkau agak selesa bisa bercerita.
1998
Kuntowijoyo menyatakan bahwa puisi-puisi yang ditulis Taufiq Ismail pada tahun 60-an berbeda dengan puisi-puisi yang ditulis tahun 1998. Puisi-puisi tahun 60-an menggunakan imaji visual yang begitu kuat menggambarkan perlawanan mahasiswa dan pada puisi-puisi yang dituliskan tahun 1998 digantikan dengan menggunakan imaji konseptual di mana Taufiq Ismail tidak lagi melukis tapi berfikir; puisi-puisinya bukan lagi mengungkap detail gejala tapi mengungkap gejala pada umumnya. Imajinasinya tidak lagi lahir bersama pengalaman-pengalaman, tapi bersama pikirannya11.
Sedangkan bagi Ignas Kleden sosok Taufiq Ismail adalah seorang yang mempunyai bahasa yang selalu liris, entah dia menulis puisi atau menulis esai. Bagi Ignas Kleden Taufiq Ismail adalah contoh penyair Indonesia yang sanggup menulis puisi tentang politik, tanpa harus mengubah puisi menjadi slogan12.
Kegelisahan Taufiq Ismail memotret realita ironis dunia pendidikan (baca: pembelajaran) jaman Orde Baru terekam dalam puisi “Pelajaran Tata Bahasa dan Mengarang13” misalnya pada bait puisi berikut ini.
…..
“Wahai Pak Guru, jangan kami disalahkan apalagi dicerca
Bila kami tak mampu mengembangkan kosa kata
Selama ini kami ‘kan diajar menghafal dan menghafal saja
Mana ada dididik mengembangkan logika
Mana ada diajar berargumentasi dengan pendapat berbeda
Dan mengenai masalah membaca buku dan karya sastra
Pak Guru sudah tahu lama sekali
Mata kami rabun novel, rabun cerpen, rabun drama dan rabun puisi
Tapi mata kami ‘kan nyalang bila menonton televisi.”
1997
Dalam konteks membaca penggalan puisi di atas, tak dapat dipungkiri maka kemudian Taufiq Ismail dengan begitu gigih mengkampanyekan pentingnya pembelajaran sastra di sekolah sebagai basis budaya yang diperlukan bagi bangsa Indonesia yang membangun. Secara sadar, pendidikan yang carut-marut mesti dibereskan, paling tidak lewat sastra dahulu di mana Taufiq Ismail salah satu pejuangnya. Bahwa ada nilai-nilai kemanusiaan yang penting disosialisasikan lewat sastra bagi perkembangan mental kesiswaan sebagai pembelajaran mengarah pada kedewasaan. Maka Taufiq Ismail sebagai sang pekerja estetik lewat majalah Horison yang dibangunnya bersama Arif Budiman, H.B. Jassin, dan kawan-kawan lainnya memberi dampak positif bagi kelestarian sastra Indonesia di mana kehidupan sastra diajarkan kemudian, tidak pada ihwal perolehan pengetahuan, melainkan bagaimana siswa terlibat dengan kegiatan membaca dan menulis karya sastra sebagai sebuah pengalaman kemanusiaan. Maka kemudian nasib pembelajaran sastra yang diperjuangkan Taufiq Ismail seyogyanya memang mendapat perhatian dari pemerintah, sebab hal yang diperjuangkannya adalah sebagai sikap moral memartabatkan bangsa.
2.
Sikap moral Taufiq Ismail itu dengan tegas dapat kita baca dalam puisi-puisi di buku ”Tirani dan Benteng14” sebagai awal konsistensinya memperjuangkan nilai kemanusiaan yang universal. Gerakan moral selalu membawakan perasaan orang banyak dan memperoleh dukungan yang luas dari masyarakat. Taufiq Ismail melawan kezaliman komunisme lewat kerja estetiknya yang liris sebagai sebuah kesaksian, membangunkan kesadarannya sebagai seorang manusia yang tak mau ditindas hak moral kreatif dan kemanusiaannya. Energi komunisme yang begitu bernafsu ingin mengendalikan kekuasaan adalah cikal-bakal munculnya perlawanan antagonisme yang senyatanya niscaya sebagai sebuah perlawanan.
Dalam konteks situasi politik kekuasaan era peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru di mana posisi Taufiq Ismail sebagai sastrawan dengan perjuangan moral yang dirintisnya, seorang Doni Gahral Adian menarik sebuah konklusi bahwa akhirnya, masyarakat demokratik diikat nilai yang dipaksakan dari atas. Alias, sebuah antagonisme baru mengemuka. Ikatan nilai itu lalu dimasalahkan berbagai kelompok antagonis yang sedianya tak bersedia diikat. Ledakan politik pun muncul dan orde yang baru mengemuka. Gawatnya, kelompok tertentu dikorbankan dalam transisi ke-orde-an. Sebagai tumbal sejarah, komunis dijadikan semacam spectre guna mengawasi dan mengendalikan berbagai kelompok antagonis15. Benarkah?
Apakah Taufiq Ismail sekedar sastrawan yang cerdik mencuri momen atau mencuri adegan dalam momen-momen politik kekuasaan yang tengah kisruh dan transisional? Pertanyaan yang kurang tepat kiranya, karena duduk perkaranya adalah pada persoalan esensi perjuangan moral Taufiq Ismail yang membawakan kepekaan “kritik” sosial dalam mengintensifikasi persoalan-persoalan kehidupan pada setiap momen dan peristiwa. Bahwa apa yang diperjuangkan Taufiq Ismail dari awal adalah gerakan moral. Penting sebagai sastrawan memberikan kesaksiannya yang nyata akan bagaimana kondisi masyarakat yang terkotak-kotak ke dalam berbagai kepentingan dan mengaburnya nilai-nilai kemanusiaan. Ada kepedulian Taufiq lsmail terhadap masyarakat lewat kiprahnya di dunia kesusastraan Indonesia. Dan kritik Taufiq Ismail terhadap kondisi sosial Orde Baru acap kali mempertimbangkan nilai-nilai kemaslahatan bagi bangsa. Maka Taufiq Ismail tidak lagi bersibuk menjadi demonstran di jalan-jalan berteriak lantang menentang segala kebijakan. Tapi bagaimana Taufiq Ismail dan kawan-kawannya menyusun strategi dan mendemonstrasikan sastra secara lewat pembelajaran yang tentunya dapat kita rasakan suatu manfaat dalam konteks membangun dunia pendidikan.
Kita dapat memaknai secara jernih pada apa, mengapa dan bagaimana yang dikerjakan Taufiq Ismail terhadap kondisi kemanusiaan yang terus-menerus dalam pergolakan dan situasi politik kekuasaan. Taufiq Ismail justru melakukan kritik sebagai gerakan moral, terhadap pola dan cara rezim otoritarian Soekarno misalnya, di mana kala itu Taufiq Ismail merasakan bagaimana rakyat yang dilanda keresahan dan dimiskinkan; bagaimana cita-cita Soekarno tentang Nasakom16-nya serta pencitraan dirinya sebagai Pemimpin Besar Revolusi yang ingin berkuasa seumur hidup tak lebih adalah semangat yang dilandasi nafsu dan keserakahan. Maka nilai-nilai sosial dan kemanusiaan yang semestinya diperhatikan dan diagungkan menjadi ternoda. Bangsa tak kunjung tercerahkan. Komunisme pun malah sibuk memanfaatkan momentum kekisruhan yakni ingin mengendalikan kekuasaan atas nama kemaruk kerakusan.
Terang. Buku ”Prahara Budaya”17 yang dimunculkan berusaha mendudukan perkara yang sejalan dengan cita-cita moral estetik dalam perspektif Taufiq Ismail di mana Taufiq Ismail sendiri pada masa itu menjadi korban dari pada pengerangkengan hak-hak kreatifnya. Buku itu paling tidak mengungkap sejarah hitam bagaimana politik-kebudayaan Indonesia yang dicengkram Lekra di bawah naungan Partai Komunis Indonesia mengganyang seniman yang tergabung dalam Manifes Kebudayaan. Buku tersebut disusun Taufiq Ismail bersama D.S Muljanto juga sebagai bukti unjuk sikap konsistensinya di garis perjuangan humanisme universal yang berlandaskan sikap bermoral ketuhanan, tidak sudi apabila komunisme sebagai gerakan sosial yang diasasi dialektika materi dan mengabaikan esensi moral ketuhanan menjadi idiologi mengerikan di negeri dengan penduduknya yang kebanyakan muslim. Dan bukan cuma itu tatanan kehidupan sosial ”sama rasa sama rata” yang dijargonkan komunisme senyatanya telah dimentahkan oleh konsep keislaman dalam membangun masyarakat ”madani”18, tinggal penguatannya pada kontinuitas gerakan moralitas untuk menciptakan sebuah tatanan kemanusiaan yang lebih baik dan damai. Fakta sejarah menunjukkan bagaimana komunisme sebagai anak jadah kapitalisme gagal mengkudeta ayahnya (kapitalisme) sendiri. Dan, ayah dan anak itu yang ingin dilawan Taufiq Ismail lewat cita-cita moralisasinya. Dan, fakta sejarah menunjukkan bagaimana keberhasilan nabi Muhammad S.A.W., pembawa ajaran moral keislaman yang dicontohkannya melalui Piagam Madinah19 dalam membangun sebuah tatanan masyarakat heterogen di kota Madinah dahulu kala.
Gerakan dan gebrakan yang dilakukan Taufiq Ismail sampai kini pun tak lebih sebagai gerakan moral atau moralisasi yang dilandasi cita-cita murni memuliakan tatanan kemanusiaan di bawah naungan Tuhan. Moralisasi menunjukkan semacam kecenderungan untuk melihat semua gejala sosial tidak dengan konsep-konsep sosiologis, tetapi dengan menggunakan kategori-kategori moral. Dengan demikian, kalau kenakalan remaja atau kekerasan yang sekarang meluas, dianggap disebabkan karena para remaja atau para preman kurang menghayati nlai-nilai baik dan buruk atau kurang menghargai warisan luhur dalam budaya Indonesia maka pandangan seperti itu dilandasi oleh semacam moralisasi20 .
Apabila dikatakan bahwa sastrawan adalah nabi sosial yang menganjurkan moralitas, Taufiq Ismail adalah sosok yang berusaha melanjutkan spirit profetik dalam kinerjanya ber-amar ma’ruf dan mencegah yang munkar. Dan, puisi-puisi Taufiq Ismail membawakan pandangan yang jernih dan menyeluruh ihwal nasib moralitas kemanusiaan. Maka puisi-puisi Taufiq Ismail merupakan kilatan jaman yang menyentuh dan jernih menyoal moralitas yang tak dikotori oleh hasrat kekuasaan. Puisi-puisi Taufiq Ismail pantas membumi di ranah negeri baik sebagai pembelajaran maupun sebagai reminisensi sejarah.
Pandangan yang mengkonsepsi gerak dan laku estetik Taufiq Ismail secara konsisten intinya adalah moralitas kemanusiaan. Maka dari itu pula ketika belakangan mencuat isu isi Pidato Kebudayaan21 Taufiq Ismail yang mempersoalkan ”Fiksi Alat Kelamin”, ”Gerakan Syahwat Merdeka”, atau pun ”Sastra Mazhab Selangkangan” adalah sebagai kritik dan otokritik atas kondisi kesusastraan Indonesia yang sebagai gerakan moralisasi. Taufiq Ismail yang ”Bapak” sangat menyayangi generasi bangsa, sehingga Taufiq Ismail tak rela generasi bangsa Indonesia hanyut di sungai keruh bernama demoralisasi yang mengotori nilai-nilai religi. Taufiq Ismail melihat ada sesuatu yang kebablasan dalam sastra Indonesia yang harus dikembalikan pada porsi utamanya yaitu pemuliaan akan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak dikebiri oleh gerakan syahwatisme atau pornografisme, di mana persoalan seks sejatinya ditempatkan dalam diskursus moralitas yang semestinya hanif dan mencerahkan. Seks yang dipasarkan secara bebas akan ”bablas” mengakibatkan runtuhnya tatanan moral sosial sebuah bangsa. Lain perkara apabila kemudian ada kalangan yang justru menistakan bentuk rasa kasih sayang dan perjuangan Taufiq Ismail toh Taufiq Ismail tetap teguh di arus ijtihadnya sebagai pekerja moral yang juga beritikad secara tulus ingin menyelamatkan sebuah bangsa dari ancaman demoralisasi.
3.
Adalah puisi-puisi Taufiq Ismail dengan narasi liris yang khas merentangkan sayap sejarah kemanusiaan Indonesia sebagai suara yang murni dari hati nurani yang bersaksi, sebagai “pembela yang sunyi” terhadap apa yang diperjuangkan Taufiq Ismail sebagai sebuah gerakan moral semata. Maka puisi-puisi yang ditulis oleh Taufiq Ismail baik dalam konteks situasi tahun 66 maupun tahun 98 menjadi penanda sebuah perjalanan yang membawakan semacam optimisme kekuatan bagaimana menyikapi realitas sosial politik yang penuh pergolakan. Semacam cahaya hati nurani yang pancarannya merupakan sebuah persaksian batin si aku lirik yang terus menggelorakan rasa empati dan kepekaan meneguhkan ihwal kesadaran. Maka, puisi-puisi Taufiq Ismail sebagai anak kandung sejarah kegelisahan sosial kebangsaan memparafrasekan kemuraman, ketakutan dan kesumpekan, sekaligus juga mendedah rasa cinta, optimisme dan spirit ketuhanan dalam konteks kemanusiaan Indonesia.
Puisi-puisi Taufiq Ismail banyak bicara tentang sosial, sesaknya kondisi kemanusiaan yang dihimpit kepentingan kekuasaan yang akibatnya, akhlak rubuh di atas negeri berserak-serak; kemiskinan dan kebodohan menjamur yang distrukturisasikan oleh kekuasaan yang tumbuh korup. Pembangunanisme menjadi semacam jargon penyamaran atas sikap hipokrit kaum pemuja korupsi, kolusi dan nepotisme yang dipelihara sebagai senjata atau benteng tiran. Establishme sebuah negara jadinya ditopang oleh sebatas reproduktivitas kepalsuan dan represivitas ketidakberpihakan terhadap nasib kerakyatan. Negara jadinya berulangkali jatuh ke tangan diktator yang nota bene haus kekuasaan. Kaum yang berjasa malah disisihkan, karena si jasa di negeri ini tak meminta bayaran kekuasaan dan hak pemuliaan secara keluarga dan individu selain cita-cita kemanusiaan itu sendiri tegak di bumi Indonesia sebagai nilai moralitas yang bertumpu pada semangat kebangsaan. Bersyukurlah, San, Bersyukurlah! Kau masih berpegang pada hati nurani.
Momentuasi puisi-puisi Taufiq Ismail menempatkan kiprah Taufiq Ismail sendiri sebagai sastrawan yang juga bisa menjadi semacam kontrol atas kekuasaan dan politik. Selanjutnya nyata bahwa peran Taufiq Ismail sebagai sastrawan lebih pada upaya menyuarakan hati nurani. Bacalah puisi ”Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” secara seksama! Terbuktikan bagaimana si aku lirik terpojokkan, rendah diri, minder di tengah pergaulan bangsa-bangsa akibat sistem yang dijalankan pemerintah Orde Baru sangat degil dan curang. Si aku irik malu semalu-malunya sebagai orang dari bangsa Indonesia.
Maka di era Orde Baru itu, Taufiq Ismail dengan energi rasa malu-nya ia tak tinggal diam. Diam-diam Taufiq Ismail konsisten sebagai si juru potret yang merekam dengan seluruh jiwa raganya atas kondisi sosial di bawah pemerintahan otoritarian Soeharto sambil terus melangkah menjalankan kerja dan gerak estetiknya di bidang kebudayaan dan pendidikan paling tidak memasyarakatkan nilai-nilai sastra ke sekolah dengan begitu gigih dan penuh dedikasi. Taufiq Ismail berusaha menata dan membereskan sistem pembelajaran sastra yang bobrok itu. Dapat kita baca rekaman kegelisahan Taufiq Ismail itu lewat puisi ”Pelajaran Tata Bahasa dan Mengarang”.
Melalui puisi-puisi Taufiq Ismail yang merespon kondisi sosial, sebenarnya kita disuguhi semacam serentetan potret buram mengenai kebudayaan, kekuasaan dan politik, sementara rakyat terus terhimpit sepanjang sejarah selepas bangsa ini menyatakan kemerdekaannya. Maka pada sejumlah puisi-puisi yang terkumpul dalam ”Tirani dan Benteng” maupun dalam ”Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” menampakkan kegelisahan itu dan menandaskan akan hal keburaman akibat politik rezim yang berkuasa. Dan posisi Taufiq Ismail sebagai sastrawan yang mencoba mempertautkan hati nuraninya sebagai sikap moral dengan kenyataan sosial itu secara dialektis. Paling tidak Taufiq Ismail berusaha melakukan intensifikasi dan stilasi atas kondisi, situasi dan masalah sosial kehidupan.
Taufiq Ismail adalah pribadi yang terus aksi moral religi, tak menyelingkuhi kekuasaan, justru ia menikahi puisi sebagai saksi di ranah pergulatan kesusastraan Indonesia sebagai penanda, pemandu dan pengkritisi zaman yang terkotak-kotak ke dalam berbagai kepentingan politik-kekuasaan.
4.
Pergerakan kaum muda sastrawan Indonesia yang mengkolektifkan diri dalam pernyataan sebuah Manifes Kebudayaan, Jakarta 17 Agustus 1963 di mana Taufiq Ismail sebagai salah satu penanda tangan manifes tersebut menunjukkan sikap sebagai kaum muda yang membaca situasi sosial di bawah kekuasaan rezim diktator yang semestinya pemerintahan berjalan melakukan kerja-kerja bagaimana memulihkan rakyat Indonesia dari trauma penjajahan yang menyengsarakan, malah terlalu sibuk dalam percaturan idiologis-politis dan slogan revolusi. Inti dari pernyataan Manifes Kebudayaan (yang oleh Lekra dipelesetkan menjadi Manikebu) sebagaimana menurut Arif Budiman adalah menolak seni yang menjadi alat politik dan menyatakan bahwa kesenian harus memperjuangkan kemanusiaan yang universal22. Lekra sebagai sebuah lembaga kebudayaan yang mengatasnamakan rakyat tertindas jelas-jelas menjalankan kekonyolannya dalam memaksakan idiologi kebudayaan mengganyang hak-hak kreatif dan demokrasi manusia. Dan Taufiq Ismail sebagai sebuah indeksikalitas dari keseluruhan pergulatan dan pertarungan kala itu menjadi saksi jaman yang tak bisa dinafikan kehadirannya terutama melalui karya-karya puisinya yang ditulis atas nama ”darah” dan cinta.
Melalui puisi-puisinya yang ditulis atas nama ”darah” dan cinta itu, Taufiq Ismail tak lepas dari sebuah upaya memeriksa kesejatian bangsa yang bermoral lewat dimensi rasa malu. Artinya, bahwa intisari dari gerakan moral yang diperjuangkan Taufiq Ismail sampai hari ini paling tidak bermula dari rasa malu. Malu apabila kita tak ikut andil dalam perjuangan menegakan demokrasi di tanah air tercinta ini. Malu sebagai budaya, sebagai sikap, sebagai landasan, sebagai spirit, sebagai pondasi, sebagai dimensi di mana kita kemudian mesti bergerak mencita-citakan sesuatu hal yang lebih baik. Malu apabila kita sebagai bangsa masih tergopoh-gopoh di hadapan bangsa lain. Malu apabila kita tak punya karya yang dapat kita banggakan. Malu apabila kita terus hidup dalam kekotoran dan pelanggaran. Malu yang kemudian menggugah kesadaran kita untuk berjuang menegakan cita-cita moral dan demokrasi nasional. Malu yang kemudian kita insyaf bekerja. Rasa malu itulah yang kemudian mengantar Taufiq Ismail tampil membawakan sebuah Pidato Kebudayaan itu dengan tema menyoroti ”Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka” yang menggetarkan jagat sastra kekinian.
Kita paham, dari dimensi rasa malu itu Taufiq Ismail menyodorkan ihwal demokratisasi yang murni membela hak-hak kemanusiaan yang berlandaskan moralitas melalui ekspresi puisi-puisi sosialnya. Pilar demokrasi sebagai soko guru sebuah bangsa dalam konteks Indonesia nyatanya masih rapuh. Hal itu ditunjukan dengan bagaimana era kekuasaan Soekarno, bagaimana era kekuasaan Soeharto dan bagaimana era reformasi yang ternyata masih mempresentasikan kemuraman, seakan-akan bangsa ini terus dirundung kemalangan, tak kunjung mengalami pencerahan. Maka jawabannya adalah cita-cita demokrasi sebagaimana Taufiq Ismail melalui aksi kebudayaan dan kesusastraan membangun pondasinya. Demokrasi adalah suatu keyakinan di mana dengannya suatu negara bangsa akan mencapai cita-cita tertingginya, masyarakat yang setara secara ekonomi, politik dan kultural. Proses untuk mencapai itu membutuhkan suatu perjuangan yang terus menerus di berbagai medan23.
Dalam ruang dimensi rasa malu Taufiq Ismail mencoba menggeladah rasa kemanusiaan lewat karya puisi-puisinya berupa kepedulian terhadap kreativitas keberkaryaan sebagai penyangga yang mesti dipertahankan dan dikonkretkan dalam suatu jalinan keutuhan moral sebagai bangsa. Artinya, dimensi rasa malu sebagai moralitas yang dikedepankan dalam membangun bangsa paling tidak, telah menginspirasi kalangan tertentu untuk bergerak melakukan perubahan mencita-citakan kebaikan dan perbaikan.
Dimensi rasa malu Taufiq Ismail yang kemudian mendorongnya gigih memperjuangkan nilai-nilai moralitas misalnya dengan dibuktikan lewat eksistensi majalah Horison Sastra Indonesia sebagai salah satu media yang mengangkat keadiluhungan makna kebudayaan bangsa sendiri. Dengan rasa malunya itu Taufiq Ismail menyalakan lilin sebagai kerja estetik kebudayaan tidak mengutuk kegelapan, kebusukan sejarah. Atas dasar sikap malu Taufiq Ismail mengingatkan lewat Pidato Kebudayaannya di Taman Ismail Marzuki di hadapan para hadirin dan anggota Akademi Jakarta itu sebagai bentuk kepedulian dan konsistensi Taufiq Ismail dalam gerakan moralisasi kesusastraan.
Malu sebagian dari iman! Dalil itu rupanya begitu meresap ke dalam sumsum dan jiwa penyair Taufiq Ismail sehingga bagi dirinya rasa malu menjadi spirit untuk kemudian bangkit dan mengerjakan hal-hal yang berguna bagi masyarakat sastra Indonesia khususnya dan semoga menjadi rahmatan lilalamin bagi umumnya. Keberhasilan Taufiq Ismail sebagai penyair yang terlibat tidak lepas dari keberhasilannya menjadikan rasa malu sebagai energi awal yang mendesak menstimulus gerak untuk kian ditantang berkarya secara konkret atau nyata.
Dimensi malu yang melandasi Taufiq Ismail dalam gerakan moralisasinya menjadi energi yang kemudian dapat mengelaborasi pemikiran dan perasaannya sendiri untuk bersikap konsisten pada apa yang diyakininya sebagai jalan pencerahan melintasi pohon-pohon harapan. Ketegasan Taufiq Ismail merupakan keteguhan sastrawan yang sudah banyak ”makan asam garam” merasa malu menyaksikan ihwal praktek politik kekuasaan yang menyengsarakan.
Dimensi rasa malu Taufiq Ismail dalam konteks perilaku Orde Baru, menohok keironisan kondisi sosial. Bahwa apa yang dicita-citakan Taufiq Ismail sejak tahun 60-an dulu menyangkut martabat bangsa Indonesia yang mesti dibebaskan dari cengkraman kediktatoran, malah kemudian dimanfaatkan penguasa berikutnya untuk berbuat kezaliman. Nyata. Rezim Orde Baru pun kemudian berhasil mengontrol aspek kehidupan rakyat dan mendistribusikan sejumlah penderitaan bagi sebagian besar rakyat di negeri ini dan hanya memberikan keuntungan bagi segelintir orang saja. Rezim Orde Baru telah menodai hak asasi manusia yang dilakukan oleh aparatus negara atas nama penciptaan stabilitas sosial, ragam bentuk ketidakadilan, kesewenang-wenangan, pengebirian dan pelanggaran, perampasan, penghisapan dan penipuan-penipuan yang dilakukan aparatus negara untuk keuntungan segelintir pengusaha dan diri mereka sendiri untuk dan atas nama pembangunan dan penciptaan kesejahteraan24. Dan, di era reformasi?
5.
Spirit gerakan kesusastraan yang tiada henti atau perjuangan yang dicita-citakan Taufiq Ismail demi terwujudnya sebuah bangsa yang ”madani” dapat kita maknai lewat terus berkarya sebaik-baiknya dengan melandaskan penciptaan dan pembacaan pada nilai-nilai moral kemanusiaan. Dan kemudian, mengestafetkan gerakan moralisasi kesusastraan secara konseptual yang bagaimana, agar tak dibodohi oleh kepentingan dan kerja semata kebablasan berekspresi sehingga tak terjerumus pada materi pornografi dan anatomi syahwati.
Kini sastra Indonesia masih sebuah bentangan perjalanan yang panjang. Dan, pada akhirnya Taufiq Ismail adalah nama atau ”ikon” bagi sebuah jalan kesusastraan Indonesia; spirit bagi kemajuan moralitas kebudayaan Indonesia yang bersendikan nilai-nilai religiusitas dan kemaslahatan kemanusiaan. Maka siapa yang berani memperjuangkan nilai-nilai moral dengan terus berkarya sambil merobohkan segala benteng dan segala tirani yang menghadang, kemudian merasa malu sebagai Indonesia apabila tak punya harga dan pakem agama, maka ia akan beroleh kepercayaan melanjutkan perjalanan kesusastraan dan kebudayaan Indonesia yang berarti mendapat tempat bermartabat, penuh harkat dan berkat. Taufiq Ismail telah memulai dan mengarungi perjalanan kesusastraan Indonesia kurang lebih selama 55 tahun, lepas dari kekurangan dan kelebihannya: ia sebagai manusia biasa. Dan, barangkali di ujung sana ”tiga anak kecil itu” dengan malu-malu siap-siap mengalungkan bunga kepada ”Bapak” sebagai tanda: ini dari kami yang cinta, biar sastra tetap terjaga!

Tinggalkan Balasan